Selasa, 26 Januari 2010

women's journey

Cikalong, 15 Desember 2008

Mayat ibu itu terbujur kaku,
sudah dikafani,
sudah dishalati.


Tangis menghantam,
Seorang gadis mengguncang si ibu.


Tak berguna,
ibu tetap membisu,
diangkat lalu dikubur.


Bandung, 12 Desember 2008

Kegelapan jam 11 malam.
Memberanikan dua muda mudi bercumbu di bahu jalan.
Tanpa mereka tahu, ada mata melirik dan mengamati.
Si mudi anak tetangga.
Mengadu dia..


Bandung, 9 Desember 2008

Kepul asap cigar,
tawa bahak dengan cipratan tequila.
Sentuhan lembut,hingga remasan kasar
"gadis" itu dapati dari sang kekasih (entah bukan).


Tak ada desahan,
tak ada erangan.
Yang ada ketidaksadaran,
atau bahkan ketidakwarasan.


Remang cahaya mempersilakan setan,
dentum saloon menenggelamkan adzan.


Cikalong, 9 Desember 2008

Doa si ibu sehabis shalat isya.
"Ya Allah, mudahkanlan jalan puteriku dalam mengais ilmu,
lindungi dia dari segala bahaya..." Amin.


Bangkit dia, lalu ke dapur.
Mengayak butiran putih tepung tapioka.
Sesuai aturan hingga menjadi cireng.


Bandung, 27 November 2007

Si gadis terkantuk di kelas.
Maklum, semalam dari kelab,
bersama sang kekasih dan kawan-kawan.
Bermain bilyard, lalu check in di motel kecil.


Telinganya dikelitik kata-kata samar dari guru menyebalkan.
Istilah-istilah biologi bagai lewat saja di kepalanya.
Hanya berjalan-jalan di sekitar rambutnya mungkin.


Cikalong, 27 November 2007

"Gorengan..gorengan.."
Teriak itu sudah terdengar dari jam 6 pagi.
Seorang ibu ditemani nyiru.


Berekspedisi setiap hari.
Menyusuri kampung dengan niat menukar bakwan,
cireng, dan lain-lain
dengan recehan atau lembaran merah, hijau, biru
bergambar pahlawan.


10 kilometer biasa dilewatinya.
Tapi hari ini dadanya serasa ditusuki.
Napasnya serasa dipendat.
Tiap detik makin nyeri.
Hingga akhirnya ia terseok,
duduk dan tak sadarkan diri.


"Jantung ibu...", kata dokter.
Tupah air mata,
setiap tetesnya adalah kata "maaf" bagi puterinya.
Bagaimana dengan sekolah anakku kalau aku sakit?


Bandung, 3 Maret 2007

Si gadis benci pengajar hari ini,
kemarin, esok juga.
Bahasan minggu ini adalah "reproduksi"
Jengah!
Keluar saja,
telpon kekasih,
tak usah kuliah.
Kita learning by doing.


Cikalong, 3 Maret 2007

Satu minggu lagi puteri si ibu ujian.
Berarti dua minggu kemudian daftar ulang.
Tandanya hari ini si ibu harus ke Bank,
tapi sebelumnya dia harus ke Hajah Diah meminjam uang.


Berangkatlah ia,mengeluh, sambil malu.
memohon, sambil malu,
dan berjanji mengganti
setelah anaknya menjadi ahli biologi.
Sebentar lagi....


Cikalong, 16 April 2005

Sementara teman-temannya menikah,
seorang gadis membulatkan tekad menjajakan kaki
di kota Bandung.
untuk 4 tahun ke depan..


Meski tak yakin,
ibunya yang single parents berjanji
membayar keinginan puterinya hingga terwujud.


Dengan bis, bismillah.
si puteri polos, lugu, tapi pintar, taat, ramah.
Sambil memandangi pantulan wajahnya dalam bis,
"Aku harus buktikan"
"Aku akan jadi ahli biologi."


2009

Tidak ada komentar: